MUSIK KOLINTANG

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

MUSIK KOLINTANG

Post  Tuama on Thu Sep 09, 2010 5:31 am

MUSIK KOLINTANG

Kolintang adalah nama alat dan sekaligus jenis musik. Rangkaian bilah kayu yang diketuk membentuk irama. Dalam khazanah dunia musik, ini disebut jenis musik xylophone.
Sejarah musik kolintang dapat ditelusuri jauh hingga zaman awal leluhur orang Minahasa. Beberapa na’asaren atau kisah rakyat (folklore) yang sudah sangat tua menyebut peran alat musik terbuat dari kayu ini. Dikisahkan betapa suara musik kayu konon sanggup menghalau setan penguasa hutan yang sedang menawan seorang anak kecil. Legenda lain menuturkan, dalam musyawarah agung di Watu Pinawetengan, setiap pencanangan butir demi butir keputusan yang disepakati, selalu diiringi serangkaian ketukan musik kayu itu. Budayawan senior Alfred Sundah merekonstruksi sejumlah data untuk menyimpulkan bahwa para pembuat garam di pesisir pantai Minahasa zaman dulu — yang sering menjadi sasaran penculikan para perompak dari Mindanao — adalah orang-orang yang gemar bermusik dengan menggunakan kayu ringan yang mereka temui terapung di pantai. Merekalah yang membawa tradisi bermusik kolintang di Filipina, dengan nama yang sama dengan Minahasa: “kulintang”.
Sebelum bernama “kolintang”, alat musik pukul atas sederet bilah kayu itu disebut Tetengtengen. Atau sudah ada sebutan “kolintang” tapi belum meluas? Sangat mungkin dua nama tersebut adalah nama untuk alat yang sama (walau bahan baku masih berbeda-beda sesuai apa yang bisa diperoleh). Karena bunyi teng-teng pastilah lebih tepat untuk melukiskan bunyi logam dibanding kayu, sedang sebaliknya kolintang lebih sesuai sebagai bunyi kayu. Apalagi kita tahu bahwa pergaulan manusia dengan peralatan kayu pastilah lebih dulu dibanding logam, maka bukan tak mungkin alat musik kolintang logam tersebut sebelumnya dibuat dari kayu sehingga nama masing-masingnya sama — baik kolintang maupun tetengtengen.
Prototipe alat tentengen kayu, sebelum dikembangkan, masih dijumpai di beberapa wilayah di Minahasa sampai sebelum pergolakan Permesta 1958 . Dimainkan di tengah ladang setelah beristirahat kerja Mapalus. 5/6 6 5 /3 3 5 /6 6 5 /3 3 2/ 3 3 2/ 1 1 2/ 3 3 5 / 3 3 0 /. Jika dimainkan oleh tiga orang, yang pertama main melodi (disebut Ina), yang kedua sebagai pengiring yang disebut Karua, dan yang ketiga dengan bilah-bilah kayu lebih besar (yang berfungsi sebagai bas, dengan nada 1 - 2 - 3) disebut Lowai.
Musik kayu tersebut sempat tergusur cukup lama. Karena masyarakat umum menilainya kalah canggih dengan logam. Sementara itu, bersama dengan kolintang logam (gong), kolintang kayu pun oleh beberapa kalangan dipandang sebagai bagian dari budaya alifuru yang harus diberantas gereja.
Kolintang logam berkembang pesat. Ditambah pengaruh seni musik daerah lain yang sudah lebih dulu mengembangkan musik tetabuhan logamnya. Sehingga, untuk masa yang cukup lama, sampai dekade 1930-an, orang pada umumnya hanya mengenal Kolintang sebagai alat musik gong (momongan). Beberapa momongan dijejer untuk diketuk-ketuk. Musiknya disebut Maoling. Nadanya, sebagaimana dicatat N. Graafland (1898): 1(do), 3(mi), 5(sol), 3(mi), 6(la), 1(do), 4(fa), 7(si). Ada gong besar yang disebut Rambi.
Sekitar tahun 1935-1940, Minahasa mengalami dampak malaise ekonomi dunia yang dimulai dari dunia Barat sejak akhir 1920-an. Ditambah mulai masuknya bayang-bayang Perang Dunia II. Orkes Hawaiian yang merupakan hiburan paling digemari masa itu mengalami masa surut lantaran kesulitan memperoleh alat-alat baru pengganti yang rusak. Desakan kebutuhan hiburan musik ini pun berpaling ke alat-alat alternatif. Untuk pengganti alat musik melodi diambillah alat musik xyplophone Tetengtengen dengan nada diatonis tanpa nada setengah.
Kolintang sebagai musik kayu tersendiri mulai mengalami pengembangan sangat signifikan, sekaligus meluapnya minat masyarakat, sejak ditekuni secara serius oleh seniman musik asal Karegesan Tonsea, Nelwan Katuuk. Mantan penabuh kolintang gong semasa remaja untuk menyemangati para pekerja mapalus ini pada tahun 1941 dibuatkan alat musik kolintang melodi oleh Willem Punu. Orkes Hawaiien dengan melodi kolintang kayu ternyata memiliki keindahan tersendiri, dan disambut luarbiasa oleh masyarakat Minahasa yang memang memiliki nilai estetika musikal yang sudah harmoni dengan alat musik leluhurnya itu.
Setelah kolintang kayu digunakan meluas — tentu saja bukan sekadar sebagai alatnya saja melainkan ia sebagai sosok kesenian tersendiri yang sangat mendapat tempat dalam estetika musikal tou Minahasa — orang pun merasa perlu membedakannya dengan kolintang logam. Apa yang dulu disebut “Kolintang” itu kini harus diberi nama lain, menjadi “kolintang tambaga”.
Alat kolintang tambaga masih disimpan beberapa warga di Minahasa, karena bahannya dari logam sehingga bisa bertahan tak lapuk. Orang Bolaang Mongondow menyebut kolintang tambaga ini Gorintang. Di Mindanao, Filipina Selatan, suku Manarouw (bahasa Minahasa “di jauh”?) menyebut Kulintang.
Satu dekade setelah kolintang kayu terangkat sangat tinggi berkat kepiawaian Nelwan Katuuk, sementara orang Minahasa belum punya keahlian membuat alat musik dawai (gitar, jukulele dan string bas) yang selama itu digunakan mengiringi melodi kolintang, para ahli pembuat alat kolintang pun mulai membuat alat-alat musik pengiring berupa kolintang kayu juga. Terbentuklah orkes yang terdiri dari kolintang semua.
Ensemble kolintang pertama kali dipergelarkan 1955 di Tomohon, di bawah pimpinan Supit Kaligis. Orkes campuran yang menggunakan kolintang sebagai melodi mulai ditinggalkan. Meski Nelwan Katuuk tetap menekuninya, dan orkes pimpinannya memenangkan Festival Kolintang Campuran 1957.
Popularitas kolintang sebagai musik tradisional Minahasa terus melaju. Hingga ke luar Minahasa. Tahun 1972 orkes kolintang pimpinan Alfred Sundah, Kadoodan, masuk dapur rekaman. Disusul Orkes Mawenang. Melalui lagu-lagu yang mencapai puncak oleh artis-artis seperti Vivi Sumanti, Frans Daromes, Otto Wowiling dan lainnya, musik kolintang menggebrak hingga ke tapal-tapal wilayah kesenian sangat jauh.
Banyak sudah kalangan di luar masyarakat Minahasa mulai belajar memainkan musik kolintang. Mereka meminta diajar oleh para musisi kolintang asal Minahasa yang pula semakin trampil. Produksi alat musik kolintang pun berkembang, terlebih di luar Sulawesi Utara (seperti Petrus Kaseke di Salatiga Jawa Tengah dan Frans Ratag di Jakarta). Dengan nada diatonis yang dapat memainkan lagu maupun irama apa saja, kolintang telah menjadi musik universal namun unik dan eksotik.

Tuama
Waraney
Waraney

Posts : 19
Join date : 29.07.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik