Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan oleh Jessy Wenas

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan oleh Jessy Wenas

Post  bonar on Thu Sep 09, 2010 5:50 am

iseng2 kita buka2 makalah kong baca, takage kita ada baca ttg tulisan ini :

Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan

Beberapa bulan yang lalu ( 24 Juli 08' ) artikel pak Jessy Wenas, tertanggal 18 Juli dengan judul ”Inskripsi guratan gambar batu Pinabetengan”, dibawa kepadaku langsung oleh Pak Jessy Wenas dan pak Joutje. Pada waktu itu pak Jessy memberikan komentar : ” Ini tulisan budayawan yang pasti berbeda dengan seorang Ilmuwan. Angan-angan budayawan bisa mengembara ke sana-sini ”. Dan memang benar, membaca tulisan ini memaksa otak Saya untuk ikut menelusuri pengembaraan angan-angan pak Jessy, sampai akhirnya Saya pusing kepala, belum sampai tujuh keliling.
Dan Saya bertanya-tanya mengapa sampai kepala Saya menjadi pusing?. Bisa jadi karena apa yang Saya harapkan dari judul artikel ini tidak dapat kutemukan kejelasannya sampai pada akhir makalah ini ( kalau bisa disebut ’makalah’ atau lebih tepat ’guratan’). Memang cara pendekatan dalam hal mengolah budaya dari pak Jessy dan Saya sangat berbeda, walaupun keduanya berusaha membuat dua kegiatan yaitu :
a) Membuat REKONSTRUKSI dari penggalan-penggalan data yang sudah tersurat dan yang baru ditemukan.
b) Membuat INTERPRETASI terhadap hasil rekonstruksi agar semua data ini bisa masuk akal.
Rekonstruksi dan Interpretasi ala Jessy Wenas ini sangat mirip dengan pola yang dipakai oleh para penulis Minahasa tempo dulu seperti J.A Worotikan (1931), H.M Taulu(1950-1980 an). F.S Watuseke (1960-1980 an). Gaya bahasa dan alur pikirnya pun cenderung sejajar. Mereka memang membaca bahasa Belanda dan mengenal beberapa buku tulisan para Zendeling, seperti J.G.F Riedel, dan J.A.T Schwarz, serta N.Graafland, ditambah pula dengan pengetahuan tentang salah satu bahasa lokal. Tidak dibuat penelitian mandiri mengenai kondisi hidup dan budaya Minahasa semasa, dan berdasarkan cuplikan-cuplikan kisah mitologis dari teks para Zendeling ini mereka membuat rekonstruksi ’quasi’ sejarah dan budaya Minahasa. Data kisah mitologis ini diterima begitu saja sebagai benar (taken for granted) dan didaur ulang berdasarkan interpretasi dan angan-angan mereka yang melompat ke sana ke mari.
Khususnya mengenai Batu Pinabetengan, Jessy Wenas mulai dengan cuplikan dari Riedel yang tertulis dalam bahasa Tombulu pada tahun 1870, sedangkan teks Melayu tuanya sebenarnya sudah terbit tahun 1862 dengan judul, ’pada manjatakan...’.
Demikian pula Riedel dalam ’ a’asaren tu’ah.. ’ ini tidak mengklaim bahwa To’ar merupakan leluhur kelompok etnis Tombulu, Karema untuk Tonsea, ataupun Lumimu’ut untuk Tontemboan: interpretasi ini dibuat hanya oleh J.A Worotikan pada tahun 1931 (’Greschiedenis uit der sagen en mythen der Minahsa’). Mungkin akses untuk tulisan – tulisan dari F.S.A. de Clerc, yang sangat banyak juga, tidak ada, sehingga pembandingan ritual di batu Pinabetengan: ada pula seorang penulis Minahasa, yang menyandang nama Natetomalesa (tanpa datum), yang mencoba membuat rekonstruksi ritual pembagian di Pinabetengan ini. Begitu pula cuplikan mengenai silsilah dari ’Rotinsulu’ yang katanya sampai 29 generasi ke atas itu, sama sekali tidak tercantum dalam buku ’ Uit onze Kolonien’ dari van Kol, karena dia hanya menulis tentang kondisi pemerintahan semasa: satu-satunya silsilah yang pernah ditulis, terdapat di buku N.Gaafland, ’ Minahasa ’ (1889), yang mengutip kisah dari N. Wilken di Tomohon.
Angan-angan mengenai Karema-Lumimuut-Toar, yang berasal dari J.A Worotikan ini, kemudian dikaitkan dengan peristiwa pembagian wilayah Batu Pinabetengan, sehigga terkesan bahwa ketiga mereka ini turut hadir dalam peristiwa ini dan karenanya figur-figur mereka tergores di batu ini. Yang Saya tahu dari tulisan Riedel, yang dipakai dalam makalah Wenas ini, tidak disebutkan bahwa ketiga sosok primogenitur ini berhubungan dengan Batu Pinabetengan, karena mereka berada di bahasa yang di pakai dalam ritus tona’as kampetan, terbagi dalam tiga bagian yang terpisah dan yang coba diceritakan sebagai sejarah yang unilinear. Kisah batu Pinabetengan terdapat pada bagian ke dua dan ke tiga (sebelum masuknya orang Eropa ). Seperti kebanyakan penulis Minahasa yang mendaur ulang, begitu pun Jessy Wenas tidak membedakan dua kisah pertemuan di batu Pinabetengan.
Sejalan dengan J.A. Worotikan yang mencoba mereka-reka waktu prasejarah Minahasa yang ditempatkan dalam sejarah Kekristenan perdana, demikian juga Jessy Wenas berangan-angan tentang kondisi abad ke-7 sampai 15 Masehi, malahan sampai mengaku bahwa bangsa Minahasa sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu, sambil menyetir tulisan dari Peter Bellwood hanya menegaskan bahwa artefak-artefak yang ditemukan di Minahasa berasal dari masa dinasti Ming (tahun 1368-1644)
Interpretasi mengenai ketiga primogenitur Minahasa yang dikatikan dengan pantheon (dewa-dewi segala) dan zodiak Minahasa (versi 1884 dari Tanawangko), sayangnya tidak didukung oleh hasil analisa dari Kurt Tauchmann, yang menulis disertasinya pada tahun1968 dengan judul ’Die Religionen der Minahasa-Stamme’. Sejauh saya temukan dalam penelitian saya sejak tahun 1970-an sampai kini, ketiga sosok primogenitur ini (Karema-Lumimuut-Toar) hampir tidak pernah muncul dalam ritual-ritual pada tonaas kampetan era 1970-80-an, tetapi baru pada aknir dasawarsa 1980-an, saat pemerintah Indonesia mulai gencar mewacanakan ’budaya’ Indonesia dengan mencarikan identitas nasional, barulah perhatian politis di Minahasa diarahkan pada leluhur ini, seperti nyata dalam julukan ’ Bumi Toar – Lumimuut’. Dan ke tiga tokoh ini baru muncul lagi dalam doa-doa ritual agama asli pada era 1990-an.
Sejajar dengan tulisan H.M.Taulu, Jessy Wenas pun mencoba membuat interpretasi mengenai guratan di Batu Pinabetengan ini tanpa menjelaskan berapa banyak guratan, berapa banyak motif yang ada, bagaimana melihat keseluruhan guratan itu : entakah ini suatu peta tradisional Minahasa? Apa saja yang ingin dijelaskan oleh guratan-guratan ini? Apakah makna lipan (kaki saribu) menjept padi (kan sangat aneh?) Sayangnya, foto yang di ambil hanyalah dari tahun 1905 yang sudah di fotokopi beberapa kali: mengapa tidak ada foto dari tahun 2008? Dan mengapa tidak dibuat pembandingan dengan guratan-guratan di pelbagai batu bergambar yang tersebar di banyak tempat di Minahasa?. Contohnya di desa Kali, Pineleng, ada batu ’pinantik’ dengan pelbagai guratan: Saya sudah mengambil fotonya, tetapi belum berani dan sempat untuk menganlisanya lebih jauh karena rasanya data hanya dari kedua batu ini masih terlalu miskin.
Akhir kata, dari kacamata Saya seorang peneliti untuk Minahasa, Saya mengharigai usaha untuk berangan-angan dan menulis tetang guratan Batu Pinabetengan ini, tetapi belum banyak memberikan penjelasan, dan masih dalam kondisi ’non-sense’. Semoga masih banyak ulasan kritis lain yang bisa menjelaskan atau ’make sense’, Insya Allah.

Paul Richard Renwarin,
Lahir di Tomohon pada tanggal 7 Januari 1955. Setelah menyelesaikan program Sarjana Filsafat di STF-Seminari Pineleng pada tahun 1974, beliau melanjutkan studi S2 program studi Antropologi di Universitas Leiden Negeri Belanda pada tahun 1987, tanggal 26 Juni Tahun 2006 beliau menyelesaikan S3 pada program yang sama di perguruan Tinggi yang sama pula. Beliau sebagai Dosen Antropologi di sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng.

bonar
Waraney
Waraney

Posts : 6
Join date : 01.08.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan oleh Jessy Wenas

Post  Tuama on Sun Sep 12, 2010 2:20 pm

wah, hrs di klarifikasi dlu neh dgn ybs

Tuama
Waraney
Waraney

Posts : 19
Join date : 29.07.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik